Kebanggaan Ayah

Admin CS
0

 



Pernah mendengar mata rantai ittiba'?

Coba lihat (Siyar Alamin Nubala: 11 / 216):


Adz Dzahabi menyebutkan bahwa Ibnu Mas'ud diserupakan dengan Nabi Muhammad -shollallahu alaihi wassalam-, dalam perangai dan akhlaknya.

Berikutnya, Alqamah diserupakan dengan Ibnu Mas'ud pada hal itu pula...


Lalu Ibrahim An-Nakhai diserupakan dengan Alqamah pada hal tersebut, selanjutnya, Manshur diserupakan dengan Ibrahim...

Sufyan Ats-Tsauri dengan Manshur, Waki' dengan Sufyan, Ahmad dengan Waki', terakhir,


Abu Dawud dengan Ahmad....

Ini adalah kisah dua insan...



1.Keteladanan sang ayah...

Hari itu, matahari mulai menurun. Bangunan-bangunan peradaban mulai melenyap dalam mega merah. Cahaya senja memantul indah di bukit-bukit berpasir. Baghdad, saksi peradaban.


Abu Daud mengerjakan salat Maghrib. Tak ada pemandangan luar biasa ketika itu, kecuali Pangeran Abu Ahmad Al-Muwaffaq yang mendatangi ulama kharismatik tersebut.


Melihatnya, Abu Daud mendekat. “Ada apa engkau datang malam-malam begini wahai Putra Mahkota?”

“Tiga hal.” Katanya.

“Apa itu?”

“Engkau pindah ke Bashrah, tinggal di sana, agar para penuntut ilmu bisa datang ke sana, belajar kepadamu. Engkau tahu, kota itu telah hancur, kau bisa memakmurkannya kembali.”

“Baiklah, ini yang pertama.”

“Kedua, engkau memberikan riwayat kitab Sunan untuk anak-anakku.”

“Baiklah,” sahut Abu Daud, “Sebutkan yang ketiga!”

“Engkau berikan mereka privasi dalam belajar, karena anak-anak para raja tak terbiasa duduk dengan rakyat-rakyat jelata.”

“Kalau yang ini, saya keberatan.” Pasti Abu Daud. “Karena seluruh manusia punya hak yang sama untuk belajar.”

Akhirnya, mereka duduk di ruangan khusus, tertutup oleh tirai, namun mendengarkan ilmu bersama rakyat dan penuntut ilmu yang hadir di majelis Abu Daud.


لأن الناس في العلم سواء


Prinsip Abu Daud. Sulaiman bin Al-Asy’ats bin Syaddab bin Amr bin Amir As-Sijistani.

Beliau dilahirkan pada tahun 202 H, di Sijistan. Sebuah kota yang hilang yang telah berganti nama menjadi sistan.


Kota yang berada di wilayah perbatasan timur Iran, di barat daya Afghanistan. Tanahnya pasir berbatu yang cenderung tandus. Tak ada pegunungan padanya.


Di usianya yang ke 18, Sulaiman memulai perjalanannya menuntut ilmu, pertama, beliau mendatangi kota Baghdad, belajar dari sana.

Setelahnya, beliau tak henti-hentinya mencari kota-kota Islam, Bashrah, Makkah, Kufah, Damaskus, Balkh, Mesir, dan kota-kota besar lainnya.

Barulah, setelah mendapatkan permintaan dari sang pangeran, beliau pun tinggal di Bashrah dan mendapatkan gelar Muhadditsul Bashrah. Hafalannya begitu luar biasa.

Ash-Shaghani mengatakan:


لين لأبي داود السجستاني الحديث كما لين لداود الحديد


“Hadits dilunakkan untuk Abu Daud sebagaimana besi dilunakkan untuk Nabi Daud.”

Namun...

Ada seorang yang lebih kuat hafalannya dari beliau...

Siapakah ia? Putranya.

Abu Bakar Abdullah.

Seperti ayahnya, dia dilahirkan di Sijistan, 230 H.

Ayahnya melihat potensi yang luar biasa pada anaknya, beliau pun telah mengajaknya safar di usia belia Abdullah.



2.Hafalannya keajaiban...

Seorang ulama besar, Ahmad bin Shalih melarang anak-anak untuk duduk di majelisnya, larangan tegas.

Namun, Abu Daud jelas tak ingin anaknya terlewatkan dari riwayat ulama besar tersebut. Dengan meletakkan sekuntum bulu domba di pipi Abdullah, mereka berangkat.

Dengan khidmat, keduanya mendengarkan satu juz riwayat. Sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan terjatuh pula. Ternyata, ada seorang yang melaporkan perbuatan Abu Daud kepada sang guru.

Dengan memendam amarahnya, sang guru bertanya kepada Abu Daud:


أمثلي يعمل معه مثل هذا


“Apakah orang seperti saya diperlakukan seperti ini?!”


“Wahai guru...” Pinta Abu Daud, “Jangan engkau cerca saya, cobalah, uji kemampuan putraku, sandingkan ia dengan para ahli fikih dan para periwayat hadits, jika ternyata Abdullah tak bisa mengalahkan mereka, barulah larang dia untuk mendengarkan riwayatmu.” Pungkasnya.


Dikumpulkanlah para ulama, ahli hadits maupun ahli fikih, subhanallah, Ibnu Abi Daud mampu mengalahkan mereka semua dalam hal hafalan dan pemahaman.

Akan tetapi, sang guru teta melarangnya untuk mendengarkan hadits, usianya masih terlalu muda, hanya saja, untuk juz pertama yang dia dengar, Ahmad bin Shalih mau memberinya riwayat.

Ibnu Abi Daud sangat bangga dengan riwayatnya tersebut.


Tahun demi tahun terus berlalu. Terus saja ia belajar, nama-nama besar tercatat menjadi gurunya, Ali bin Khasyram, murid Waki’, Juga Al-Fallas Amr bin Ali, Muhammad bin Yahya Adz-Dzuhli, dan masih banyak lagi.

Semangatnya dalam belajar, tanpa menunda-nunda adalah hasil tempaan ayahnya.

Ketika sedang belajar di Kufah, beliau hanya membawa 1 dinar, untuk perbekalan, dibelilah 30 mud kacang. Beliau makan kacang-kacang tersebut sembari belajar kepada Abu Sa’id Al-Asyajj. Kacang-kacangnya terus berkurang, dan saat habis, berpaa hadits yang ditulisnya?


Tiga puluh ribu hadits... Luar biasa.

Tiga puluh mud untuk tiga puluh ribu hadits. Duhai, adakah para penuntut ilmu yang rela membeli dunia dengan ilmu?!


Ketekunannya membuahkan hasil, di suatu kesempatan, beliau kembali ke negerinya, Sijistan, penduduk Sijistan sangat kegirangan oleh kedatangannya, mereka meminta Ibnu Abi Daud untuk meriwayatkan hadits.


“Maaf, saya sedang tidak membawa buku.” Tolaknya.

“Ibnu Abi Daud sekarang butuh buku?!” sindir mereka.

“Mereka pun membuatku tersinggung.” Kata Ibnu Abi Daud. “Saat itu pula, aku membacakan untuk mereka tiga puluh ribu hadits dari hafalanku.”


Ketika beliau bertolak ke negeri Baghdad, berita ini pun sampai kepada penduduk Baghdad, mereka yang mendengarnya tercengang. “Belia

u singgah di Sijistan, mempermainkan mereka?”. Gumam mereka.

“Penduduk Baghdad pun membayar beberapa orang, membekali mereka uang sejumlah enam dinar, untuk oergi ke Sijistan, menuliskan naskah hafalan tersebut dari penduduknya. Setelah naskah itu rampung, mereka pulang, membawanya.

Dipaparkanlah salinan tersebut kepada para ahli hadits..” lanjut Ibnu Abi Daud, “Dan mereka menyalahkanku pada enam hadits.”


“Yang tiga memang salah,” kata Ibnu Abi Daud, “Dan yang tiga lagi, sudah saya sampaikan sebagaimana mestinya.”

Allahu Akbar, 3:30.000. benar-benar ajaib.



Kawan, apakah Abu Daud merasa tersaingi dengan hafalan putranya?

Tidak, bahkan beliau sangat bangga, walaupun Abu Khallal mengatakan bahwa Ibnu Abi Daud lebih kuat hafalannya dibandingkan ayahnya. Meskipun para ulama mengatakan bahwa tak ada seorang ahli hadits pun di zamannya yang lebih kuat hafalannya dari beliau.

Kawan, apakah nama Abu Daud terkubur karena kecerdasan putranya?

Tentu saja tidak, justru namanya semakin melambung tinggi. Kemanapun putranya pergi, nama Abu Daud akan selalu mengiringi. Bahkan hingga saat ini.

Itulah kebanggaan seorang ayah. Memiliki putra yang bisa mengharumkan namanya.

Untukmu yang sedang berjuang, ingatlah, engkau bukan berjuang untuk dirimu, tapi lebih penting dari itu, ada dua manusia yang sangat mengharapkanmu. Mengecewakan diri sendiri tidaklah berat, namun ada orang lain yang mampu kau kecewakan. Bila kalian tak bersungguh-sungguh.

Abu Daud wafat pada 16 Syawwal 275 H. Adapun putranya, ia menyusul ayahandanya pada Dzulhijjah 316 H, 41 tahun sepeninggal ayahnya. Semoga Allah merahmati mereka berdua.


Sumber:

1. Siyar Alamin Nubala: 13/203-237

2. Mu'jamul Buldan: 3/216

(LisanulQalam) Jumat, 4 November 2022, 10:16


Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)

#buttons=(Ok, Go it!) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Check Now
Ok, Go it!