Masa kini
Taurino Restaurant. Begitulah yang tertulis di sebuah bangunan besar, di pertigaan jl. C. Osario. Bangunan bergaya klasik namun elegan. Temboknya batu bata yang bersusun simetris, semakin mengundang kesan tuanya. Pintunya berpalang besi. Matahari sudah mulai menyeruak, namun pagi ini masih terlalu awal untuk membuka palang besi tersebut. Di sudut sudutnya, ada beberapa coretan ulah anak-anak.. Vandal, begitu mereka menyebutnya.
Jalanan di depan resto sempit, jika ada dua mobil berpapasan, salah satunya tentu harus mengalah. Memberi jalan bagi yang lain. Berjajar batu-batu yang kokoh. Jalanan ini menunjukkan usianya yang tak lagi muda.
Berjalan ke arah selatan, kita
akan diajak untuk memandang bangunan-bangunan yang senada, tinggi, klasik, tanpa banyak ornamen.
Carmelina, sebuah bangunan menyambut. Boutique de belleza. Servicio y orientacion para profesionalez....Kental sekali dengan bahasa latinnya.
Anak-anak berlarian di antara gang-gang sempit. Membuat para pengendara harus semakin berhati-hati.
Bangunan-bangunan tinggi itu terus saja mengapit. Hingga sampailah di Plaza Vaca De Alfaro. Dengan latarnya yang luas, gedungnya yang menjorok ke belakang, setidaknya memberi ruang untuk bernafas.
Tak ada ruang kosong antara jalan dan gedung yang membetuk letter u tersebut. Namun diisi dengan pohon Tabebuia yang mulai mekar, menampakkan pucuk-pucuk merah mudanya. Plaza ini menjadi paru-paru di tengah dada perkampungan yang menyesakkan.
Jalanan C. Osario berkelok sedikit. Tanpa sadar, rumah-rumah tua di kiri jalan telah menjadi tembok besar. Nuansanya lebih modern. Berlapis cat kuning, beruas batu bata yang tak dilapisi, sebuah tembok yang menggabungkan nuansa modern tapi tetap menjaga kesan klasiknya. Entah apa di balik tembok besar itu, misterius.
Terus berjalan. Tanpa terasa, kita telah berada di persimpangan. Dengan tiga jalan yang lebih besar, dari arah utara, selatan, dan barat. Di salah satu pertokoan, kulihat bendera yang tak asing. Bendera yang dibanggakan penduduknya saat ini. Bendera Spanyol.
Cordoba, sejak semalam membayangiku. Membaca tentang Ibnu Hazm mengingatkanku pada kota kelahirannya, cordoba.
Islam pernah ada disana kawan, bahkan pernah menjadi jantung kerajaan. Menjadi nafas-nafas penghuninya. Tak peduli darah catalan maupun darah maroko, kaum muslimin pernah mengukir sejarahnya di sana.
Satu diantara sekian banyak mereka ialah : Ibnu Hazm Al Andalus....
Cordoba, Seribu Enam Puluh Tahun Yang Lalu..
Takbir kemenangan bergemuruh bersahutan.
Abu Umar, menteri Al-Manshur sedang bergembira. Tetapi entah mana yang lebih membuatnya bahagia, hari raya idul fitri, ataukah kelahiran sang putra.
Tepat di pagi buta, sebelum matahari menyingsing, istrinya melahirkan si kecil, calon penerus ayahnya. Sejarah mencatat, momen itu tepat hari terakhir bulan Ramadan, 384.
Dengan bangga, sang ayah memberinya nama seperti nama pemimpin besar kaum muslimin, Ali.
Dialah Ali bin Ahmad bin Said bin Hazm bin Ghalib bin Shalih bin Khalaf bin Ma’dan bin Sufyan bin Yazid. Abu Muhammad.
Bangsa asli beliau adalah Persia, kakek buyutnya lah yang memboyong serta keluarganya ke negeri Andalusia. Khalaf bin Ma’dan.
Ketika itu, kakeknya mengabdi pada Raja Andalusia, Abdurrahman bin Muawiyah bin Hisyam Ad-Dakhil
Sebagai keluarga bangsawan, hidupnya tak pernah kekurangan. Kenikmatan, kenyamanan, dan kekayaan mengelilinginya.
Disamping itu, Ali Ibnu Hazm juga dikaruniai kecerdasan yang luar biasa, akal yang matang, dan otak encer. Keluarganya tak menyia-nyiakan hal tersebut, Ali Ibnu Hazm difasilitasi untuk menunjang pendidikannya.
Beliau menjadi seorang sastrawan di usia mudanya, menguasai banyak ilmu bahasa, menghafal banyak hikayat dan pandai menggubah serta merekam syair-syair Arab.
Turun temurun pekerjaan kementerian diwariskan keluarganya. Terbukti, ayahnya adalah seorang yang sangat dimuliakan di Andalusia, sebagai menteri besar Dinasti Al-Amiriyah.
Ayah dan Kakeknya menjadi tangan kanan Gubernur Muhammad bin Abi ‘Amir, di bawah pimpinan Khalifah Al-Muayyid Billah bin Al-Mustanshir Al-Marwani. Kemudian menjadi tangan kanan Al-Mudhaffar.
Melihat potensi besar pada putranya, sang menteri memberikan peluang yang sama. Di usianya yang juga masih muda, Ali Ibnu Hazm telah menjadi seorang menteri.
Ketika itu, beliau menjadi kepercayaan Al-Mustadh-hir Abdurrahman bin Hisyam. Kharismanya makin menjadi.
Pria tampan berdarah Persia, sebagai menteri di Andalusia.
Kehidupannya terus dalam taraf yang tinggi, hingga pada suatu hari, semua itu berubah.
400 H, umurnya kala itu telah mencapai dua puluh enam tahun. Meski kesibukannya sebagai negarawan, Ibnu Hazm tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim. Beliau menghadiri suatu pemakaman.
Menunggu jenazah diurus, beliau masuk ke sebuah masjid, singgah di sana, masuk, duduk, tanpa mengerjakan salat terlebih dahulu.
“Heh, bangun! Kerjakan salat tahiyatul masjid.!” Sergah seorang pria.
“Saya pun bangun dan mengerjakan apa yang dikatakannya.” Kata Ali bin Hazm mengenang.
“Tatkala kami telah pulang dari salat jenazah.” Lanjutnya “kami kembali melewati masjid tersebut. Saya pun masuk dan segera saja melakukan salat.
Ternyata ada lagi orang yang menegur: ‘Duduk! Duduk! Ini bukan waktunya salat sunnah.” Kejadian itu terjadi selepas ashar.
Mengalami dua kejadian di atas, saya pun pulang dalam keadaan amat sangat terpukul.
‘Tunjukkan padaku, rumah Ahli Fikih, Abu Abdillah bin Dahhun.” Pinta saya kepada guruku.
Setelah ditunjukkan, saya segera mendatanginya, saya ceritakan segala yang saya alami. Beliau pun menunjukkan kepada saya kitab Muwaththa’ karya Imam Malik.”
Seratus delapan pun derajat kehidupannya tiba-tiba berubah.
“Dengan kitab itulah, saya mulai belajar kepada beliau. Dalam rentang waktu tiga tahun, saya terus belajar kepadanya. Muwaththa’ maupun kitab-kitab yang lain. Terus saya belajar, dan mulai bertukar pendapat.”
Ibnu Hazm meninggalkan semua kebangsawanannya, beliau curahkan hartanya untuk ilmu, semuanya. Meringkuk di hadapan ilmu. Membaca dan menghafal. Sampai pada puncaknya, beliau menjadi seseorang yang meraih ilmu yang tak dapat diraih oleh seorang anak muda pun di bumi Andalusia.
Putranya pernah menyatakan bahwa jikalau karya ayahnya dikumpulkan, akan sebanyak 400 jilid, yang berisikan 160.000 halaman.
Pantas saja, Abu Bakar Ibnul Arabi pernah mengatakan: “Saya pernah berguru kepada Ibnu Hazm selama tujuh tahun. Dalam rentang waktu tersebut, saya mendapatkan seluruh tulisannya. Kecuali jilid terakhir dari kitabnya Al-Fashl. Kitab itu terdiri dari enam jilid.” Bahkan waktu tujuh tahun dengan mulazamah yang luar biasa tak bisa menghabiskan semua karya tulisnya.
Adapun hafalannya, maka ia bagaikan lautan yang tiada bertepi, bagaikan air mengalir tanpa henti.
Yasa’ bin Hazm Al-Ghafiqi mengatakan:
أما محفوظه: فبحر عجاج و ماء ثجاج يخرج من بحره مرجان الحكم وينبت بثجاجه ألفاف النعم في رياض الهمم.
Yasa’ juga menceritakan: “Beliau telah menghafal berbagai cabang ilmu kaum muslimin. Melampaui para ulama. Padahal, di masa remajanya beliau adalah seorang yang mengenakan sutera, tidak bisa tidur kecuali di ranjang yang nyaman. (Siapa sangka pada akhirnya menjadi seorang ulama).
Umar bin Wajib menceritakan:
“Pernah di suatu hari di kota Valencia. (Saat itu Ibnu Hazm masih menjadi menteri untuk Al-Mustadh-hir). Ayahku sedang mengajarkan madzhab Maliki di salah satu madrasah. Ternyata Ibnu Hazm hadir di sana. Mendengarkan dengan seksama. Beliau terkagum dengan pelajaran ketika itu.
Beliau pun bertanya kepada para hadirin tentang beberapa permasalahan fikih. Pertanyaan-pertanyaannya dijawab. Tetapi, karena merasa kurang tepat, beliau membantah jawaban tadi. Sepertinya bukan seperti itu. Para hadirin yang gemas menegurnya: ‘Ilmu ini bukan bidangmu!!’
Dengan perasaan remuk redam beliau pulang. Terdiam di dalam rumah. Tanpa sadar, setitik air mata menetes dari ujung matanya. Beliau menangis.
Setelah beberapa bulan, beliau datang lagi kepada kami dan mempertanyakan kembali permasalahan yang sempat ditanyakan sebelumnya. Ternyata, beliau mampu membantah kami dengan bantahan yang bagus.
‘Saya akan selalu mengikuti kebenaran, saya tidak akan taklid kepada madzhab apapun.’ Tutupnya tegas.”
Bulan-bulan itu, beliau gunakan untuk sedikit belajar.
Beliau adalah orang yang gemar dalam berdiskusi. Oleh karena itu, di dalam kitabnya ‘Al-Akhlaq was Siyar’, beliau katakan:
“Saya dibuat marah oleh orang bodoh dua kali seumur hidup.
Pertama: ketika saya masihlah orang yang bodoh, mereka mengguruiku tanpa kecakapan.
Kedua: Mereka tak pernah mau membuka diskusi bersamaku ketika aku menjadi seorang yang mulai berilmu...
Namun, para ulama telah membuatku gembira dua kali seumur hidupku.
Pertama: Karena mereka mau mengajariku di kala bodoh, dan
Kedua: mereka mau membuka diskusi bersamaku ketika saya berilmu.
Putra persia bertanah Andalusia.
Di petang hari Ahad, 27 Rajab 456, Andalusia kehilangan mahkotanya. Semoga Allah merahmati beliau. Ali Ibnu Hazm Al-Andalus. (384-456)
Sumber : Siyar Alamin Nubala j. 18 hal. 184-212
(LisanulQalam)



