Memilih pasangan hidup adalah salah satu keputusan terbesar dalam perjalanan manusia. Bukan sekadar hanya soal cinta, memilih pasangan adalah tentang kesiapan menjalani kehidupan bersama, menghadapi tantangan, serta membangun rumah tangga yang diridhai Allah.
Tak heran jika Islam memberi perhatian sangat besar pada fase pra-nikah, menekankan pentingnya refleksi dan muhasabah sebelum mengambil langkah besar ini.
Namun, di era modern yang penuh godaan dan distraksi, banyak orang terburu-buru memilih pasangan tanpa benar-benar mengenali kesiapan diri maupun memahami harapan yang ingin diraih. Akibatnya, perjalanan rumah tangga kerap penuh gejolak dan kekecewaan.
Padahal, dengan refleksi mendalam, setiap insan bisa lebih bijak dan tenang dalam menapaki jenjang pernikahan.
1. Menyadari Tujuan Menikah- Ibadah, Bukan Sekadar Status
Dalam Islam, menikah adalah ibadah dan bagian dari sunnah Rasulullah ï·º. Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.” (QS. Ar-Rum: 21)
Menikah bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan emosional atau sosial, tetapi juga bentuk pengabdian kepada Allah. Maka, sebelum memilih pasangan, tanyakan pada diri:
- Apakah tujuan menikahku semata karena ingin mengikuti sunnah dan mencari ridha Allah?
- Ataukah hanya agar tidak kesepian, atau sekadar memenuhi ekspektasi sosial?
Dengan memahami tujuan ini, kita akan lebih mudah memilah mana harapan yang realistis, dan mana yang perlu diluruskan.
2. Muhasabah Kesiapan Diri- Sudahkah Aku Siap Berbagi Hidup?
Ahli hikmah pernah berucap begini “Perbaiki dirimu, maka Allah akan memperbaiki urusanmu.” Begitu pula dalam memilih pasangan, muhasabah atau introspeksi diri sangat penting.
Beberapa pertanyaan refleksi yang bisa membantu antara lain:
- Kesiapan Emosional- Sudahkah aku mampu mengelola emosi dengan baik? Menikah bukan hanya tentang menerima kebahagiaan, tetapi juga tentang kesiapan menghadapi perbedaan, konflik, dan tekanan bersama.
- Kematangan Spiritual- Apakah aku sudah membiasakan diri mendekat pada Allah saat ada masalah ataupun tidak? Pasangan yang baik adalah yang bisa saling mengingatkan dalam kebaikan dan menjaga nilai-nilai Islam.
- Kesiapan Finansial- Memulai rumah tangga membutuhkan perencanaan keuangan, meski sederhana. Bukan soal kaya atau miskin, tapi tentang tanggung jawab dan kemampuan mengelola rezeki.
- Kematangan Komunikasi- Sudahkah aku belajar berkomunikasi secara asertif? Mampu mendengarkan, menghargai pendapat, dan menyelesaikan masalah bersama.
3. Mengenali Harapan- Realistis atau Hanya Ilusi?
Tak dapat dipungkiri, banyak orang memiliki daftar harapan panjang tentang pasangan idaman. Mulai dari fisik, karakter, latar belakang pendidikan, hingga visi hidup. Tidak salah memiliki standar, namun penting untuk memilah: mana harapan yang hakiki dan mana yang hanya ilusi oleh dunia luar atau media sosial.
Dalamsebuah hadist, Rasulullah ï·º bersabda:
“Wanita dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka pilihlah yang bagus agamanya, niscaya engkau beruntung.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Prinsip ini menuntun kita untuk menjadikan agama dan akhlak sebagai prioritas utama. Cinta, ketertarikan, dan harapan lain adalah bonus, bukan fondasi utama.
Tuliskan harapanmu pada pasangan secara jujur apakah harapan itu bisa diusahakan bersama? Apakah jika harapan itu tidak terpenuhi, kamu masih bisa menerima dan berbahagia?
4. Konsultasi & Istikharah- Memohon Petunjuk Allah
Refleksi sebelum menikah juga berarti tidak hanya bersandar pada penilaian diri, tetapi melibatkan Allah dalam setiap keputusan. Lakukan shalat istikharah dengan hati lapang, minta petunjuk apakah calon pasangan benar-benar yang terbaik menurut Allah.
Selain itu, konsultasikan dengan orang tua, Ustadz, atau orang-orang yang memiliki ilmu dan pengalaman. Terkadang mereka bisa melihat apa yang luput dari penilaian kita.
5. Bersiap Menerima Kekurangan & Bertumbuh Bersama
Pernikahan itu bukan tentang menemukan pasangan yang sempurna, melainkan tentang dua insan yang siap bertumbuh bersama. Setiap orang punya kekurangan dan masa lalu, begitu pula kita. Sikap menerima, memaafkan, dan berkomitmen untuk terus memperbaiki diri adalah kunci pernikahan yang langgeng.
Jangan terlalu kaku pada diri sendiri atau pasangan. Jadikan perjalanan menikah sebagai sarana memperbanyak amal, memperbaiki akhlak, dan semakin dekat kepada Allah.
“Dan orang-orang yang berdoa: ‘Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.’” (QS. Al-Furqan: 74)
Penutup- Menjadikan Pernikahan sebagai Ladang Amal
Refleksi sebelum memilih pasangan adalah proses muhasabah yang sangat penting, agar langkah besar dalam hidup ini tidak dijalani dengan tergesa-gesa dan hanya mengikuti arus.
Dengan mengenali kesiapan diri dan memahami harapan, kita bisa lebih tenang, ikhlas, dan siap menjalani perjalanan rumah tangga yang penuh keberkahan.
Karena sejatinya, pernikahan bukan tujuan akhir, melainkan awal dari perjalanan menjadi hamba Allah yang lebih baik, bersama pasangan yang sejalan dalam kebaikan.

.png)