.png)
Islam mengajarkan bahwa hidup di dunia adalah perjalanan, bukan sekadar rutinitas tanpa arah. Menata prioritas berarti mengambil jeda sejenak, melakukan refleksi diri, dan memastikan bahwa setiap langkah yang kita tempuh benar-benar bernilai di hadapan Allah dan bermanfaat untuk diri sendiri serta orang lain.
1. Hidup Lebih dari Sekadar Rutinitas
Dalam Al-Qur’an, Allah menegaskan bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau, sementara akhirat adalah tujuan sejati:
“Dan kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidaklah kamu mengerti?” (QS. Al-An’am: 32)
Ayat ini mengingatkan kita untuk tidak larut dalam aktivitas harian yang sia-sia. Rutinitas memang penting sebagai bentuk tanggung jawab, tetapi jangan sampai kita kehilangan arah dan tujuan.
Menjadi sibuk belum tentu berarti produktif atau bernilai. Inilah pentingnya refleksi diri agar hidup tidak hanya “mengalir begitu saja”.
2. Refleksi Diri: Mengapa dan Untuk Apa Aku Melakukan Ini?
Refleksi diri atau muhasabah adalah kunci untuk menata ulang prioritas hidup. Tanyakan pada diri sendiri:
- Apakah aktivitas harian yang aku lakukan mendekatkanku kepada Allah?
- Apakah pekerjaanku, hobiku, atau bahkan kebiasaanku benar-benar memberi manfaat, baik untuk diri sendiri maupun orang lain?
- Sudahkah aku menyeimbangkan urusan dunia dan akhirat?
Mu'awiyah bin Qurrah rahimahullah berkata,
"Manusia paling banyak hisab (perhitungan) amalnya pada hari kiamat nanti adalah orang yang sehat dan banyak menganggur (banyak menggunakan waktunya dalam perkara yang sia-sia)." Al-Mujalasah wa Jawahir al-Ilmi (152/4)
Dengan rutin melakukan muhasabah, kita tidak hanya menjalani hari-hari, tetapi juga mengisinya dengan makna dan tujuan. Setiap pilihan menjadi lebih terarah dan penuh pertimbangan.
3. Menentukan Prioritas: Mana yang Paling Penting dalam Hidupku?
Banyak orang merasa kehilangan arah bahkan hampa tanpa makna, bukan karena mereka terlalu banyak pekerjaan, tetapi karena terlalu banyak hal yang tidak jelas tujuannya.
Oleh karena itu, sangat penting untuk menetapkan prioritas hidup. Berikut langkah-langkah yang bisa dilakukan:
- Identifikasi Nilai-Nilai Utama- Apa yang benar-benar penting bagimu? Apakah keluarga, ibadah, karier, kontribusi sosial, atau pengembangan diri? Nilai-nilai inilah yang menjadi pondasi dalam menetapkan prioritas.
- Buat Skala Prioritas- Susun daftar aktivitas berdasarkan urgensi dan kepentingan. Jangan biarkan hal-hal yang mendesak mengalahkan yang penting.
- Berani Mengatakan Tidak- Tidak semua tawaran, pekerjaan, atau ajakan harus diterima. Memiliki prioritas berarti berani memilih dan rela melepaskan hal-hal yang tidak sejalan dengan tujuan utama hidupmu.
4. Menyeimbangkan Dunia dan Akhirat
Seringkali kita merasa bersalah ketika fokus pada urusan dunia, atau sebaliknya, merasa kehilangan ketika terlalu banyak menunda kebahagiaan dunia demi akhirat. Padahal, Islam tidak pernah mengajarkan untuk meninggalkan dunia sepenuhnya, melainkan mengelola keduanya secara seimbang.
Allah berfirman:
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia…” (QS. Al-Qashash: 77)
Menata prioritas berarti mampu menjalankan peran sebagai hamba Allah, sekaligus menjadi manusia yang bermanfaat di dunia. Mulailah harimu dengan niat yang benar, jadikan pekerjaan sebagai ladang amal, dan isi waktu luang dengan aktivitas yang mendekatkan diri kepada Allah.
5. Mencari Keseimbangan- Spiritual, Keluarga, dan Karier
- Spiritual- Sisihkan waktu khusus untuk ibadah dan refleksi, seperti shalat tahajud, shalat dhuha, membaca Al-Qur’an, atau sekadar berzikir di sela-sela aktivitas.
- Keluarga- Jangan biarkan kesibukan menggerus hubungan dengan keluarga. Luangkan waktu berkualitas, dengarkan keluh kesah mereka, dan berikan perhatian.
- Karier- Kerja keras itu baik, namun jangan sampai menjadi hamba pekerjaan. Jadikan karier sebagai jalan kontribusi, bukan sekadar sumber penghasilan.
Rasulullah ﷺ sendiri adalah contoh terbaik dalam menata waktu. Beliau mampu menyeimbangkan ibadah, urusan keluarga, dakwah, dan kemasyarakatan dengan sangat baik.
Penutup- Jadikan Hidup Lebih Bermakna dengan Prioritas yang Jelas
Hidup ini terlalu singkat jika hanya diisi dengan rutinitas tanpa makna. Menata prioritas bukan berarti membatasi diri, tapi justru memperluas makna hidup dan memperdalam hubungan dengan Allah serta sesama manusia.
Ambil jeda sejenak, lakukan refleksi, dan tanyakan pada diri sendiri: Apakah aku sudah menjalani hidup ini dengan benar? Sudahkah aku menempatkan Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya, seperti : tanggung jawab keluarga di prioritas tertinggi?
Semoga setiap langkah yang kita tempuh selalu bernilai ibadah dan menjadi bekal terbaik saat kembali ke hadapan-Nya.
"Dahulu para ahli fiqih saling memberi wasiat diantara mereka dengan 3 hal, dan menulis dengan hal tersebut sebagian mereka kepada sebagian yang lain:
Kitab Al-Hilyah karya Abu Nu'aim (4/427)
- Barangsiapa beramal untuk akhiratnya, niscaya ALLAH mencukupi dunianya.
- Barangsiapa yang memperbaiki keadaan batinnya, niscaya ALLAH memperbaiki keadaan lahiriyahnya.
- Barangsiapa yang memperbaiki hubungan antara dirinya dengan ALLAH, niscaya ALLAH memperbaiki hubungan antara dirinya dengan manusia."
Jangan hanya jadi penonton dalam hidupmu sendiri. Jadilah aktor utama yang tahu ke mana arah dan tujuan setiap langkahmu.
